Tanggapan Video Viral 3 Siswa Papua Meminta Mundur dari Pendidikan Militer

  • Whatsapp
Puspen TNI

WARTALIKA TV – Pada 26 Desember 2019 telah beredar video di sosial media facebook (fb) dimana akun Manuel Matemko menpublikasikan sebuah video berisi tiga orang siswa Papua yang minta mundur dari pendidikan militer di Papua.

Perlu dijelaskan bahwa video tersebut adalah kegiatan konseling rutin yang dilakukan oleh pelatih dan pembina di seluruh lembaga pendidikan militer di seluruh Indonesia termasuk di papua.

Mekanisme kegiatan ini dilaksanakan dengan cara pembina/pelatih memanggil setiap siswa baik secara perorangan maupun dalam kelompok kecil untuk didengarkan segala keluhan para siswa dari hati-ke hati serta memberikan motivasi dan membangkitkan semangat kepada siswa dalam menjalani pendidikan militer yang sangat berat.

Secara umum pada awal pendidikan setiap siswa dalam pendidikan pembentukan TNI pasti akan mengalami situasi mental dalam keadaan down (jatuh mental). Karena para siswa akan menghadapi perubahan lingkungan yang sangat drastis. Dari lingkungan kehidupan sipil yang sangat bebas cenderung liar masuk kedalam linkungan kehidupan militer yang sangat ketat dan penuh disiplin.

Oleh karena itu dibutuhkan adanya konseling dari pembina/pelatih untuk memotivasi dan membangkitkan kembali semangat para siswa. Dalam kegiatan konseling tersebut akan terjalin hubungan yang sangat dekat antara siswa dan pembina/pelatih menjadi hubungan antara Kakak dan Adik, Orang Tua dan Anak serta hubungan Sahabat seperjuangan. Sehingga para siswa bebas mencurahkan segala unek-unek dan dan keresahan hatinya, termasuk masalah keluarga serta masalah yang sangat pribadi.

Dalam tayangan video tersebut terlihat tiga orang siswa yang mengalami mental down sehingga ingin mundur dari pendidikan militer. Seorang pembina/pelatih memberikan motivasi dengan memerankan dirinya sebagai Kakak terhadap adik, orang tua terhadap anak dan sebagai sahabat dalam seperjuangan mau dengan sabar mendengar isi hati dan keluhan serta keinginan anak didiknya. Kemudian pelatih tersebut memberikan motivasi dengan pendekatan religius keagamaan maupun pendekatan lain yang dapat menyentuh hati para siswanya.

Dalam setiap proses pendidikan militer akan berlaku hukum seleksi alam. Bagi mereka yang memiliki jiwa yang kuat, tahan menderita dan teguh pada pendirian akan sukses dalam menjalani pendidikan dan kokoh dalam mengemban segala tugas dan tanggung jawab seberat apapun tantangan yang dihadapinya sebagai seorang prajurit kesatria. Tetapi bagi mereka yang bermental lemah, cengeng dan pengecut serta penakut dengan sendirinya akan tersisi dan terseleksi. Karena hanya orang-orang yang bermental baja yang mampu menghadapi berbagai tantangan.

Perlu juga ditegaskan bahwa dalam rekrutmen anggota TNI tidak ada unsur paksaan bagi siapapun, mungkin saja ada dorongan dari personel TNI di wilayah atau dari pihak manapun, tetapi bukan berati dalam bentuk paksaan apalagi ancaman. Setiap calon TNI akan mengajukan lamaran secara sukarela, dan akan menandatangani surat kesanggupan mengikuti pendidikan dan melaksanakan tugas sebagai prajurit TNI serta siap ditempatkan di manapun di seluruh wilayah NKRI.

Setiap peserta akan menjalani serangkaian test yang sangat ketat dan faktanya tidak semua yang mendaftar pasti lulus dan sukses menjadi seorang prajurit. Sistem seleksi yang dihadapi tidak hanya pada masa rekrutmen, tetapi seleksi akan terus berjalan baik dalam pendidikan maupun dalam penugasan sebagai prajurit TNI kelak.

Namun demikian khusus di Papua TNI membuka kesempatan seluas-luasnya bagi putra putri Papua untuk menjadi anggota TNI. Karena itu khusus orang Papua standar tes akan diturunkan tanpa mengabaikan stadar pokok yang sudah ditetapkan. TNI membuka peluang yang sangat luas bagi orang Papua dengan rasio perbandingan 80% peluang untuk orang Papua dan hanya 20% peluang bagi non Papua yang mendaftar di wilayah Kodam XVI/Cenderawasih. [RK]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *